mohon maaf sementara postingan ini masih berasal dari referensi blog orang.. bukan bermaksud plagiat tapi ini sekedar mem-bookmark pelajaran untuk saya belajar lebih lanjut, tapi tidak lupa saya cantumkan file asal postingan saya... heheh peace !!!!

Tampilkan postingan dengan label for family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label for family. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2015

Tugas Rumah Tangga Adalah Kewajiban Suami,


Benarkah? Simak Dialog Ini

Di subuh yang dingin… kudapati ibu sudah sibuk memasak untuk keluarga..
“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”

“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan bapak” sahutnya..

“Alhamdulillah.. mantab pasti.. mari saya bantu. Eh bu.. calon istriku dia tidak bisa masak loh..”

“Iya terus kenapa,,?” Sahut ibu..

“Ya tidak kenapa2 sih bu.. hanya cerita saja, hehehe”..

“Jangan di pikir memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban wanita”

“Hah.? Maksut ibu..?” Kaget..

“Itu semua adalah kewajiban lelaki”

“Tapi bukankah ibu setiap hari melakukannya?”

“Kewajiban istri adalah taat pada suami. Karena bapak itu tidak mungkin bisa mengurusi rumah maka ibu bantu mengurusi semuanya. Sebagai wujud cinta dan juga wujud istri yang mencari ridho suaminya”

Saya makin bingung bu.

“Bukankah kewajiban lelaki untuk menafkahi istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan” tanya ibu..

“Iya tentu saja bu..”

“Menurut mu pengertian nafkah itu yang seperti apa? Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban suami. Makanan adalah nafkah. Kalau beras. Itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban suami. Lalu rumah adalah kewajiban suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban suami”

“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban suami. Kenapa ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut bapak sekalipun?

“Karena ibu juga seorang istri yang mencari ridha dari suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena ibu mencintai ayahmu, mana mungkin ibu tega menyuruh ayahmu yang baru pulang bekerja untuk melakukan tugas itu semua. Jika ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk ibu”

Aku hanya diam..

“Pernah dengar cerita fatimah yang meminta pembantu kepada Nabi karena tangan nya lebam karena menumbuk tepung?” Tapi Nabi tidak memberinya.

Atau pernah dengar juga saat Umar di Omeli istrinya? Umar diam saja karena tahu betul. Wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam2 yang sebenarnya itu bukanlah tugas istri. Tapi karena patuh dan taatnya wanita semua ridha dikerjakannya.

“Iya buu…”

“Jadi laki laki selama ini salah sangka ya bu, seharusnya setiap lelaki bertrimakasih pada istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah istri.”

“Eh. Terus kenapa ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban ibu?”

“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita. Atau menuntut kewajiban suami kita. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk brusaha membaikan satu sama lain. Yang wanita sebaik mungkin membantu suaminya. Yang lelaki sebaik w membantu istrinya. Toh impianya rumah tangga sampai surga”

“Subhanallah.. eeh kalo calon istriku tau hal ini dan dia malas ngapa2 in bu?”

“Wanita beragama tentu tau bahwa ia harus mencari keridhoan suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang lelaki beragama tentu tau bahwa istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya”

“Hening…”

Sumber : Muslim Stay Handsome

Sabtu, 16 Mei 2015

HARGAI PROFESI IBU RUMAH TANGGA

Ternyata mereka itu lah para hard worker yang tulus. Banggalah wahai kamu (anak) jika punya ibu dan kamu (suami) jika punya istri yang mendedikasikan diri menjadi seorang IBU RUMAH TANGGA …. 

Berikut tanya jawab antara seorang suami (S) dan Psikolog (P):

P : Apakah pekerjaan Pak Bandy?
S : Saya bekerja sebagai Akuntan di sebuah bank.
P : Istri Bapak ?
S : Dia tidak bekerja. Hanya ibu rumah tangga saja.
P : Tiap-tiap pagi siapa yang menyediakan sarapan?
S : Istri saya menyediakan sebab dia tidak bekerja.
P : Jam berapa istri bangun untuk sediakan sarapan ?
S : Jam 6 pagi dia bangun karena sebelum membuat sarapan dia beres-beres rumah dulu.
P : Anak-anak Pak Bandy ke sekolah bagaimana?
S : Isteri saya yang mengantar sebab dia tidak bekerja.
P : Selepas mengantar anak-anak, apa yang selanjutnya isteri Bapak lakukan?
S : Pergi ke pasar, kemudian kembali ke rumah untuk memasak dan membereskan jemuran. Isteri kan tak bekerja.
P : Petang hari selepas Pak Bandy pulang ke rumah, apa yang Bapak lakukan?
S : Beristirahat, karena seharian saya capek bekerja.
P : Lalu apa yang istri bapak lakukan ?
S : Sediakan makanan, melayani anak, menyiapkan makan untuk saya dan membereskan sisa-sisa makanan dan bersih-bersih lalu lanjut menidurkan anak-anak.

Berdasarkan cerita di atas, anda rasa siapa yang lebih banyak bekerja???

Rutinitas seharian istri anda dimulai dari sebelum pagi sehingga lewat malam, itu juga dikatakan TIDAK BEKERJA??!!

Ibu Rumah Tangga memang tidak memerlukan segulung ijazah, pangkat atau jabatan yang besar, tetapi peranan IBU RUMAH TANGGA sangatlah penting!

Hargailah seorang isteri. Karena bagaimanapun pengorbanannya tidak terkira. Ini merupakan renungan untuk kita semua untuk senantiasa saling memahami dan menghargai peran masing-masing. Karena adanya rasa “SALING MENGHARGAI ” maka semua akan bahagia 

Kamis, 08 Januari 2015

suami love istri

BEGINILAH CAR YANG BENAR DARI SEORANG SUAMI YANG MENCINTAI ISTRINYA
1. SUAMI selalu menggandeng tangan istrinya saat berjalan, jika satu tangan pun juga tidak bisa menggandeng karena suatu hal, SUAMI selalu meminta istrinya yang menggandeng tangannya. Alasannya dia bertanggung jawab atas jalan istrinya supaya selalu aman.
2. SUAMI selalu mencium kening istrinya disaat-saat tertentu, sebelum dan sepulang bekerja, sebelum dan sesudah tidur. Alasannya sebagai tanda bahwa dialah pelindung dan penenang istrinya agar istrinya selalu merasa nyaman.
3. SUAMI tidak pernah berteriak kepada istrinya, alasannya suara yang keras dari suami untuk istrinya adalah cambuk yang menyakitkan.
4. SUAMI tidak pernah mencela dan memaki istrinya sebesar apapun kesalahan yang diperbuat alasannya makian dan celaan bukan kata yang bijak mengajarkan kebenaran.
5. SUAMI selalu memeluk dan membelai istrinya jika istrinya berbuat salah, alasannya mulut dan perbuatan istri adalah tanggung jawab suami, bila istri sampai tidak terkontrol itu adalah salah suami, sebab itu dia selalu memeluk dan membelai istrinya sambil berkata
"maafkan ayah, lain kali jangan kamu ulangi kesalahan itu lagi, jadilah istri yang beriman dan baik, salahkan ayah saja".
6. SUAMI selalu bangun sebelum isteri terbangun dan berangkat tidur setelah istrinya, alasannya kewajibannyalah untuk melindungi hidup istrinya dimulai saat bangun tidur dan sampai akan tidur, itulah janji suami pada istrinya.
Semoga para lelaki Yang membaca Coretan Ini Dapat Mencintai Istrinya Sepenuh Hati dan Bisa menerima Kekurangan Istrinya. Aamiin..

Minggu, 23 November 2014

sendal jepit istriku

"SANDAL JEPIT ISTRIKU"

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada
rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala
ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan
lapar memuncak seperti ini makanan yang
tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur
sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang
perkedelnya asin nggak ketulungan.
“Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak
dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…
kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!”
Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak
menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar
terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya
mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya…
tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar
seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus
menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada
tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada
emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala
dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin
pasti air matanya sudah merebak. *** Sepekan
sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang
benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan
untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku.
Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan
tak sesuai dengan apa yang kuimpikan.
Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet
tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah
kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak
(pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika
menggunung di sana sini. Piring-piring kotor
berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw…
berember-ember. Ditambah lagi aroma bau
busuknya yang menyengat, karena berhari-hari
direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa
beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…
ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau
keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil
menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri
sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian,
tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek
bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak,
nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?”
Belum sempat kata-kataku habis sudah
terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan
begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk
menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah
diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi
isteri shalihah…? Isteri shalihah itu tidak
cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air
matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana
nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-
ngomel terus.
Rumah ini berantakan karena memang ummi tak
bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk
kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-
muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga
sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis.
“Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya
orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi,
sementara air matanya kulihat tetap merebak.
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta
isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari
ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya
sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum
saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,”
jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
“Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini
kepala Ummi gampang pusing kalau mencium
bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan
dalam bus dengan suasana panas menyengat.
Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,”
ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik
bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini
ternyata diundur pekan depan. Kesempatan
waktu luang ini kugunakan untuk menjemput
isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja
menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai
di tempat isteriku mengaji.
Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu
berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan
pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-
indah dan kelihatan harganya begitu mahal.
“Wanita, memang suka yang indah-indah,
sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku
membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk
pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit
sepasang sepatu indah.
Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini
sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera
kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu
indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa.
Perih sekali rasanya hati ini, kenapa baru
sekarang sadar bahwa aku tak pernah
memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana
ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara
teman-temannnya bersepatu bagus.
“Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,”
suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak,
lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat
dua ukhti berjalan melintas sambil
menggendong bocah mungil yang berjilbab
indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab
umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua
ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang
lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku.
Aku menghitung sudah delapan orang keluar
dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh
berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini
dia mujahidahku!” pekik hatiku.
Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja.
Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah
indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang
sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku
kembali dirayapi perasaan berdosa karena
selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku
baru sadar, bahwa semenjak menikah belum
pernah membelikan sepotong baju pun
untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan
kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di
balik semua itu begitu banyak kelebihanmu,
wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan
Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk
mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah
kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang
terbaik di antara kamu adalah yang paling baik
terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa
pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami
agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang
aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri
dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya.
Aku benar-benar merasa menjadi suami
terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh
berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas
berbalik ke arahku, pandangan matanya
menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku
di tempat ini. Namun, kemudian terlihat
perlahan bibirnya mengembangkan senyum.
Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan
girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku
segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu
kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk
isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia
kembali mengembang dari bibirnya.
“Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan
suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku
terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal
menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa
bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah
sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu
betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang
berbinar-binar karena perhatianku…? Semoga
berguna bagi kita semua….amin ya rabbal
alamien .

Kamis, 13 November 2014

suami mengeluh

:: Andai Aku Menjadi Seorang Istri (Doa Seorang Suami) :: Seorang lelaki berdoa: “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinya pelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.” Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah. Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak. Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang. Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya. Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut. Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan t tidur terlelap. Tentu masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang belum dikerjakan. Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.” Tuhan menjawab: “Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.” (sumber: http://daunhijau.com/)

Selasa, 11 November 2014

about istri

[7:22PM, 11/9/2014] ‪+62 856-9469-4674‬: Obrolan yang menyenangkan dan menenangkan ;)

Nice to share :

Anak : Assalamualaikum...

Ibu : Waalaikumsalam..
lho nak kok tumben pulang gak bilang bilang mana istrimu??

Anak : istri di rumah bu, saya gak bilang ke istri kalau mau ke sini hehehe...

Ibu : lho kenapa? ya gak boleh lho kyak gitu??

Anak : bu saya mau tanya, se sibuk itukah jadi ibu rumah tangga??

Ibu : kenapa?? kamu ada masalah sama istrimu??

Anak : ya saya bingung aja bu, rumah gak pernah beres, tiap malam mengeluh capek sedangkan saya yg kerja tiap hari aja biasa aja, yg aneh lagi bu kenapa istri saya tidak pernah berdandan. padahal itu kan di wajib istri harus terlihat cantik di depan suami. saya liat ibu kok biasa aja gak pernah sesibuk istri saya.

Ibu : nak, dengar ibu baik baik
pekerjaan ibu rumah tangga memang tidak banyak hanya berkutat pada membersihkan rumah, memasak dan menggurus anak. tapi
pekerjaan itu sungguh menguras tenaga dan pikiran. coba liat mana pernah istrimu mengerjakan suatu pekerjaan sampai selesai?
yg istrimu lakukan pasti mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, karena apabila tidak seperti itu tidak akan selesai selesai.

Anak: tetapi kenapa rumah jarang sekali rapi?

Ibu : karena istrimu lebih memprioritaskan anak-anakmu dari pada segalanya. sedangkan pekerjaan mengurus anak memang sangat menyenangkan tetapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yg ekstra agar anak-anakmu tidak jatuh, tidak nangis dan mendapatkan perhatian yg cukup dari ibunya jadi pantas lah kalau tiap hari istrimu mengeluh capek. tetapi sesungguhnya hanya di bibir saja dia mengeluh capek karena sebetulnya dia hanya memancingmu untuk meminta sedikit perhatianmu di waktu senggangnya ketika buah hati kalian telah tertidur pulas.

Anak : tetapi bu, tidak sempatkah dia merawat dirinya sebentar saja. dulu saja sering sekali yg luluran lah, yg facial lah, yg spa lah...

Ibu : he he he..
anakku anakku sejatinya seorang wanita itu sangat suka dimanja. tidak ada wanita manapun yg menolak untuk facial, luluran apalagi spa. tapi kembali lagi. ketika istrimu baru saja membuka perlengkapan tempurnya (baca: kosmetik) tiba tiba terdengar anakmu menangis dan akhirnya tidak jadi lah dia merawat diri. jangankan luluran bagi seorang ibu rumah tangga yg punya anak kecil, guyuran air mandi saja sudah menjadi obat bagi capek yg dia rasakan. jadi jangan sekali kali kau banding bandingkan istrimu dengam teman kerjamu atau wanita lain yg terlihat begitu cantik dengan polesannya. Dia sudah berkorban merelakan waktu yg paling dia senangi untuk mengurus anak anakmu dan kamu.
kamu melihat ibu biasa saja karena memang anak ibu sudah besar besat. begitu juga dengan istrimu nanti ketika anak kalian sudah besar dia akan lebih memperhatikan dirinya dan merawat diri lagi.

INGAT nak pesan ibu bersabarlah. jangan sampai kau tergoda dengan perempuan lain hanya karena istrimu tidak berdandan. Sayangi istrimu, luangkan sedikit waktu untuk mengusir kelelahannya dan kepenatannya.

sekarang pulanglah dan peluk cium istrimu dengan mesra.

��������������